Ortuku ini tergolong ortu yang ane-ane. Honestly, perbedaan mereka bner" mencolok. Ayahku ni orangnya bersihan, nggak suka ngelihat satu pun barang yg tampak mengganggu mata--ada sepercik sifat Ayah ini yg dia turunin ke aku looh. Sementara Ibuku, beda jauh. Tinggal di kawasan pesantren--yg scara nggak langsung mengajarinya u/ tak peduli pada kebersihan, membuatnya kemproh abis. Masa yah, tiap abis cuci piring, Ibuku mesti malah bikin sampah sisa" makanan yg ada di piring kotor jd kececeran di lantei. Ckckckck.
Ibuku, orangnya lebih ke religiusnya. Gitulah, pokoknya apa-apa harus ada hubungannya sama agama. Plis deh. Nah, kalo Bokap, beda lagi. Dia tuh lebih bijaksana. Dia bisa nyeimbangin sisi religi sama sisi sosialnya. Jadi, nggak terlalu ngekang gitu. Te O Pe dah.
Ibuku, orangnya kadang gampang dibelokin pendapatnya, tp kadang juga kukuh. Kalo misal dia lagi marah sama aku, pendiriannya kuat banget. Nah, tapi kalo misalnya adu debat aku yg mulai duluan, pasti Ibuku takluk. Hahaha.
Beda lagi sama Bokap. Dia tuh lebih ke 'as u wish' ato terserah deh. Pokoknya itu baik buat anak"nya.
Ibuku, orangnya setengah tuli. *astahfirullah, Ilma!* Lho, iya kok. Masa ni yah, tadi aku ngomong" gitu sm dia.
Ibu : Besok" Ibuk sama Ayah mau ke Blitar.
Tita : Ikuttt
Aku : Ngapain?
Ibu : Mesra"an sama Ayah.
Aku : Mesra"an? Di makam bung karno ?
Ibu : *diem sejenak* hah? Rano Karno?
Aya : *mendelik* Ma, kan udah tak bilangin, periksa ke dokter THT sana lo!!
oalah.
Bokap, gampang banget sakitnya. Bertelanjang dada dikit, pasti lgsg panas-dingin. Gejala orang udah tua gitu de. Kalo Ayah udah sakit gitu, seisi rumah pasti ngebaik-baikin dia. Siap jadi pengabdi orang tua yg paling setiaa ... Hehehe.
Okeh, cukup. Ntu aja. Besok" lagi aku posting. Insya Allah abisnya Unas. Tapi.... doain dulu ya, biar aku bisa lulus dg nilai yg aku impikaann .. aminn !!
See U later
Sabtu, 18 April 2009
Selasa, 07 April 2009
Puisi tanpa henti
Bunga yang rapuh, seperti itu perasaanku kini
entah, mungkin hati ini telah tertambat
seperti seonggok kapal yang singgah di pulau tak berpenghuni
Sepertinya, bintang kembali redup
benang merah telah terputus
dan aku, kembali sendiri
ditemani simfoni malam yang menyayat
Kenapa ‘rasa’ itu slalu buatku merasa tak berarti?
buatku seolah menjelma menjadi bunga yang tak pernah mekar
lebah yang kutunggu, takkan pernah menghinggapiku
dan rasa kecewapun membebaniku
Aku terus mendayung perahuku,
tapi toh dayung yang kupegang slalu tersangkut
dan lalu, aku tenggelam
Mimpi itu akan slalu jadi mimpi
takkan menjadi nyataku
karena kuncup yang layu, akan slalu layu
Lihat, bunga-bunga tlah tunjukkan warnanya
kelopak demi kelopak mekar, menunjukkan keagungan corak mereka
setetes embun jatuh
seolah tahu tangis yang meliputi batinku
Bunga tanpa mahkota, tanpa rona
kuncup dan layu, tak pernah berhasil menunjukkan keindahannya
adakah cara untuk membuka kelopak bunga yang ditakdirkan
selamanya menjadi kuncup?
Kesunyian selalu hantui batinku
di balik semua canda dan ceria, tersimpan rasa kecewa
yang terselubung di balik celah-celah kebahagiaan
ku ingin berteriak lantang :
dimana mentari yang seharusnya datang menjemputku?
Kutahu jawabannya
naif, diri Ini terlalu munafik
tak mau menerima kenyataan yang ada
Hujan selalu kurindu,
untuk kembali bertemu dengan sang penguasa cahaya
meski mentari datang bukan tuk menjemputku
dan, kembali aku menaifkan diri
Aku tak yakin padamu…
Adakah yang membuatku bisa raih mimpiku?
kan kukepakkan sayap ini,
mengangkasa melewati langt biru bernaung awan tipis
aku ingin lepas,
dari semua rasa kecewa yang selalu hinggapiku
ku ingin bisa lepaskan tawaku tuk mencoba berpaling
berpaling dari raut yang menyiksaku
Kembali bayang itu datang
seolah terus menjagaku
walau lengan itu tak menyentuh...
tak kasihan...
entah, mungkin hati ini telah tertambat
seperti seonggok kapal yang singgah di pulau tak berpenghuni
Sepertinya, bintang kembali redup
benang merah telah terputus
dan aku, kembali sendiri
ditemani simfoni malam yang menyayat
Kenapa ‘rasa’ itu slalu buatku merasa tak berarti?
buatku seolah menjelma menjadi bunga yang tak pernah mekar
lebah yang kutunggu, takkan pernah menghinggapiku
dan rasa kecewapun membebaniku
Aku terus mendayung perahuku,
tapi toh dayung yang kupegang slalu tersangkut
dan lalu, aku tenggelam
Mimpi itu akan slalu jadi mimpi
takkan menjadi nyataku
karena kuncup yang layu, akan slalu layu
Lihat, bunga-bunga tlah tunjukkan warnanya
kelopak demi kelopak mekar, menunjukkan keagungan corak mereka
setetes embun jatuh
seolah tahu tangis yang meliputi batinku
Bunga tanpa mahkota, tanpa rona
kuncup dan layu, tak pernah berhasil menunjukkan keindahannya
adakah cara untuk membuka kelopak bunga yang ditakdirkan
selamanya menjadi kuncup?
Kesunyian selalu hantui batinku
di balik semua canda dan ceria, tersimpan rasa kecewa
yang terselubung di balik celah-celah kebahagiaan
ku ingin berteriak lantang :
dimana mentari yang seharusnya datang menjemputku?
Kutahu jawabannya
naif, diri Ini terlalu munafik
tak mau menerima kenyataan yang ada
Hujan selalu kurindu,
untuk kembali bertemu dengan sang penguasa cahaya
meski mentari datang bukan tuk menjemputku
dan, kembali aku menaifkan diri
Aku tak yakin padamu…
Adakah yang membuatku bisa raih mimpiku?
kan kukepakkan sayap ini,
mengangkasa melewati langt biru bernaung awan tipis
aku ingin lepas,
dari semua rasa kecewa yang selalu hinggapiku
ku ingin bisa lepaskan tawaku tuk mencoba berpaling
berpaling dari raut yang menyiksaku
Kembali bayang itu datang
seolah terus menjagaku
walau lengan itu tak menyentuh...
tak kasihan...
Rabu, 25 Maret 2009
Ayah-Ibu. Cinta mereka tak lekang oleh waktu.
Sadar gak seh, di saat kita nyari" contoh kisah cinta paling hebat sepanjang masa n jadi bingung cz gak nemu-nemu selain di dongeng", kita jadi lupa satu hal? Satu kisah cinta abadi yg deket bgt sama kita selama ini. Kisah cinta ortu kita.
Mungkin memang tak sesempurna ending dongeng" negeri impian--... heppily ever after--tapi justru, ketidaksempurnaan itulah suatu kesempurnaan tersendiri bagi kisah itu. Bagaimana mereka masih terus saling menyayangi, berpuluh" tahun, menghadapi kehidupan berdua, harus selalu berbagi...
Ayahku terlahir dari keluarga tak berada. Ayah Kecil selalu menjual gorengan buatan Ibu-nya, membawa dagangan keliling perkampungan. Selalu mengharapkan orang" mengasihinya krn melihat wajah melasnya. Ayah Remaja, tumbuh jadi anak yg cerdas--kata Ibuku seh gtu. Ayah masuk ke SMAN 1, SMA yg termasuk unggulan di Sby. Masih juga di jaman ini Ayah belum jadi orang sukses. Ayah berangkat ke sekolahnya dengan sepeda pancal kebo yg paling bobrok pemberian kakaknya--di keluarganya, Ayah adalah anak bungsu. Teman" SMA-nya sendiri sebagian besar sudah membawa sepeda motor. Tapi Ayah, dengan keadaan yg memaksanya hrs bertahan, terus mngayuh sepedanya. Sampai kemudian, teman"nya yg iseng menggantungkan speda kebo Ayah di atas pohon, membuatnya terbengong" memikirkan bagaimana menurunkan sepeda itu.
Ayah Dewasa berubah menjadi seorang Cowok Ganteng yang mirip aktor top jaman itu: Rano Karno--masih kata Ibuku seh. Ayah mulai bekerja di sebuah perusahaan. Suatu ketika, Ayah menginap di rumah temannya di Jakarta, beberapa waktu. Cukup lama juga. Bahkan si Nyonya pemilik rumah sampai berniat menjadikan Ayah sebagai Menantunya, untuk dijadikan suami dari adik temannya. Untung Ayah menolak--soalnya kalo nggak menolak, terus aku mau lahir lewat mana dong?
Sementara itu Ibu lain lagi ceritanya.
Ibu Kecil lahir di tengah" keluarga Kyai. Agamis banget dah. Tapi tetep aja, kalangan menengah ke bawah--ke bawah banget malah. Masa kecil Ibu habis di Pesantren. Bersama para santri-santriwati.
Ibu Remaja tumbuh jadi sesosok cewek cantik bertubuh cihuy--benerloh, gak boong. Dia jadi cewek yg aktif di OSIS, berbagai perlombaan puisi-puisi. Juga aktif dapet surat cinta dari cowok" di sekolahnya. Ahayy ... Heran, kenapa sekarang kok beda jauh sama di foto remaja-nya yaa???
Ibu Dewasa adalah orang yg sering sembunyi" di balik meja buat ngehindarin cowok" yg mau melamar. Lebaii . Tapi Ibu emang dikejar". Bunga Kampung istilahnya. Kapan waktu gitu, Ibu pernah nunjukin orang yg lewat depan rumah ke aku. Sambil bisik gini:
'Il, ntu orang yg dulu lari" ngjar Ibu. Ngebet ngelamar Ibu.'
Ahahaha.
Tp toh, namanya jodoh nggak ke mana. Ayah ketemu Ibu. Ayah JC sama Ibu. Ibu tergila" sama kumis melintang di atas bibir Ayah dan tahi lalat imut nan oke punya di bagian dagu Ayah.
Lalu Allah menyatukan mereka. Dan cinta mereka pun abadi. Takkan mati. Sampai maut memisahkan mereka. Meski cinta mereka nggak sesempurna cerita" indah negeri khayangan...
Sadar gak seh, di saat kita nyari" contoh kisah cinta paling hebat sepanjang masa n jadi bingung cz gak nemu-nemu selain di dongeng", kita jadi lupa satu hal? Satu kisah cinta abadi yg deket bgt sama kita selama ini. Kisah cinta ortu kita.
Mungkin memang tak sesempurna ending dongeng" negeri impian--... heppily ever after--tapi justru, ketidaksempurnaan itulah suatu kesempurnaan tersendiri bagi kisah itu. Bagaimana mereka masih terus saling menyayangi, berpuluh" tahun, menghadapi kehidupan berdua, harus selalu berbagi...
Ayahku terlahir dari keluarga tak berada. Ayah Kecil selalu menjual gorengan buatan Ibu-nya, membawa dagangan keliling perkampungan. Selalu mengharapkan orang" mengasihinya krn melihat wajah melasnya. Ayah Remaja, tumbuh jadi anak yg cerdas--kata Ibuku seh gtu. Ayah masuk ke SMAN 1, SMA yg termasuk unggulan di Sby. Masih juga di jaman ini Ayah belum jadi orang sukses. Ayah berangkat ke sekolahnya dengan sepeda pancal kebo yg paling bobrok pemberian kakaknya--di keluarganya, Ayah adalah anak bungsu. Teman" SMA-nya sendiri sebagian besar sudah membawa sepeda motor. Tapi Ayah, dengan keadaan yg memaksanya hrs bertahan, terus mngayuh sepedanya. Sampai kemudian, teman"nya yg iseng menggantungkan speda kebo Ayah di atas pohon, membuatnya terbengong" memikirkan bagaimana menurunkan sepeda itu.
Ayah Dewasa berubah menjadi seorang Cowok Ganteng yang mirip aktor top jaman itu: Rano Karno--masih kata Ibuku seh. Ayah mulai bekerja di sebuah perusahaan. Suatu ketika, Ayah menginap di rumah temannya di Jakarta, beberapa waktu. Cukup lama juga. Bahkan si Nyonya pemilik rumah sampai berniat menjadikan Ayah sebagai Menantunya, untuk dijadikan suami dari adik temannya. Untung Ayah menolak--soalnya kalo nggak menolak, terus aku mau lahir lewat mana dong?
Sementara itu Ibu lain lagi ceritanya.
Ibu Kecil lahir di tengah" keluarga Kyai. Agamis banget dah. Tapi tetep aja, kalangan menengah ke bawah--ke bawah banget malah. Masa kecil Ibu habis di Pesantren. Bersama para santri-santriwati.
Ibu Remaja tumbuh jadi sesosok cewek cantik bertubuh cihuy--benerloh, gak boong. Dia jadi cewek yg aktif di OSIS, berbagai perlombaan puisi-puisi. Juga aktif dapet surat cinta dari cowok" di sekolahnya. Ahayy ... Heran, kenapa sekarang kok beda jauh sama di foto remaja-nya yaa???
Ibu Dewasa adalah orang yg sering sembunyi" di balik meja buat ngehindarin cowok" yg mau melamar. Lebaii . Tapi Ibu emang dikejar". Bunga Kampung istilahnya. Kapan waktu gitu, Ibu pernah nunjukin orang yg lewat depan rumah ke aku. Sambil bisik gini:
'Il, ntu orang yg dulu lari" ngjar Ibu. Ngebet ngelamar Ibu.'
Ahahaha.
Tp toh, namanya jodoh nggak ke mana. Ayah ketemu Ibu. Ayah JC sama Ibu. Ibu tergila" sama kumis melintang di atas bibir Ayah dan tahi lalat imut nan oke punya di bagian dagu Ayah.
Lalu Allah menyatukan mereka. Dan cinta mereka pun abadi. Takkan mati. Sampai maut memisahkan mereka. Meski cinta mereka nggak sesempurna cerita" indah negeri khayangan...
Gambar 17+ di Buku Mewarnai
Aku punya seekor adik cewek. Berponi, berambut sebahu, bergelombang. Berkulit putih, mata sedikit menyerupaiku, dan hidung membulat persis hidungku. Biasa jadi budakku kalo di rumah. Ngng... sebagai pelampiasan perasaan juga seh. Jadi kalo misalnya lagi betmut gtu, aku suka teriakin adekku. (Nggak usah kasian sama dia, dia-nya sendiri uda kebal kok).
Nama lengkapnya Naila Rahma Tsabita. Nick-nya Tita, Titut, Dek, Ndut, dsb. Hobinya mewarnai buku gambarnya, buku gambarku, buku pelajaranku, tembok kamarku, dan hal" lainnya. Ini dia yg ngerepotin 'mbak'--pembantu, di rumah. Cz, Tita nggak bisa nggak tiap hari beli buku mewarnai.
Yah, nggak mahal seh. Seribu perak per buku. Tapi kan, bikin bangkrut jugag kalo bli-nya tiap hari. Apalagi yang bliin pembantuku--yang notabene duitnya jugag gak banyak" amatt...
Nah, tadi, aku buka" salah satu buku mewarnai Tita yg covernya sungguh memikat: princess disney yg cantik". Dan, ketika di tengah" buku, aku menemukan suatu hal yg ajaib di sana.
Bayangin, di buku berjudul 'asyik mewarnai bersama putri-putri khusus TK'itu, terdapat gambar mempesona: sinderela lagi cipokan sama pangeran. Wao! French kiss gtu lagi. Aku langsung nanya ke Tita.
Aku: Dek, ini sapa yang bliin?
Tita: Mbak Luluk (pembantu)
Aku: Ini gambar apa? *nunjukin gambar cihuy-nya sinderela*
Tita: *terdiam sejenak* Nggng... Orang saling menyayangi ...?
Huahahahaha... benar sekali kau, Dek! Semoga dengan melihat gambar mesra sinderela dg pangeran tampan itu, kamu jadi semakin menyayangi orang lainn... Allahu Akbar!
Untungnya, adekku belom ngerti apapa sama hal" 'sensor' begini. Kalo sampai aja dia ngerti maksud itu gambar, pasti dah besoknya aku ngelabrak penjual tuh buku, melayangkan permintaan penindaklanjutan kasus ini pada si pembuat buku ke pengadilan atas nama UU Anti Pornografi No. 79975231, tentang Gambar Porno di depan Anak di bawah Umur....
Nama lengkapnya Naila Rahma Tsabita. Nick-nya Tita, Titut, Dek, Ndut, dsb. Hobinya mewarnai buku gambarnya, buku gambarku, buku pelajaranku, tembok kamarku, dan hal" lainnya. Ini dia yg ngerepotin 'mbak'--pembantu, di rumah. Cz, Tita nggak bisa nggak tiap hari beli buku mewarnai.
Yah, nggak mahal seh. Seribu perak per buku. Tapi kan, bikin bangkrut jugag kalo bli-nya tiap hari. Apalagi yang bliin pembantuku--yang notabene duitnya jugag gak banyak" amatt...
Nah, tadi, aku buka" salah satu buku mewarnai Tita yg covernya sungguh memikat: princess disney yg cantik". Dan, ketika di tengah" buku, aku menemukan suatu hal yg ajaib di sana.
Bayangin, di buku berjudul 'asyik mewarnai bersama putri-putri khusus TK'itu, terdapat gambar mempesona: sinderela lagi cipokan sama pangeran. Wao! French kiss gtu lagi. Aku langsung nanya ke Tita.
Aku: Dek, ini sapa yang bliin?
Tita: Mbak Luluk (pembantu)
Aku: Ini gambar apa? *nunjukin gambar cihuy-nya sinderela*
Tita: *terdiam sejenak* Nggng... Orang saling menyayangi ...?
Huahahahaha... benar sekali kau, Dek! Semoga dengan melihat gambar mesra sinderela dg pangeran tampan itu, kamu jadi semakin menyayangi orang lainn... Allahu Akbar!
Untungnya, adekku belom ngerti apapa sama hal" 'sensor' begini. Kalo sampai aja dia ngerti maksud itu gambar, pasti dah besoknya aku ngelabrak penjual tuh buku, melayangkan permintaan penindaklanjutan kasus ini pada si pembuat buku ke pengadilan atas nama UU Anti Pornografi No. 79975231, tentang Gambar Porno di depan Anak di bawah Umur....
Minggu, 08 Februari 2009
Fight UNAS!
UNAS kuraangg ... 78 hari , dihitung dr hari aku nge-post ini . Banyak hal yg uda brusaha dilakukan oleh guru" kita tercinta, buat bikind qt bisa lewatin UNAS dengan lancar ...
Semoga perjuangan mereka gak sia", dibayar tunai sama nilai tinggi kita semua ! AMIN !
Go UNAS, go SMALA !!
Semoga perjuangan mereka gak sia", dibayar tunai sama nilai tinggi kita semua ! AMIN !
Go UNAS, go SMALA !!
Kamis, 08 Januari 2009
Tanpa Arti
Susah sekali utk jadi orang yg bisa berarti bg orang lain. Kadang aq brpikir klo aq ini adala seorang yg tanpa arti. Gak punya kelebihan. Yg bikin aq dianggap 'ada'. Coba liat, nezha yg unik n menghibur, sari yg mnarik, lia yg punya byutiful face, nupi yg bkin org ktawa, yulia yg cmerlang otaknya ...
Aq sering kalah dg perasaan sperti ini. Terlebih stelah melihat bayanganku di cermin. Coba lihat, aq ga punya apa" untuk dibanggakan. Atau, Tuhan menyuruhku utk mencari" serpihan" kelebihanku yg ada? Sepertinya, sampai tua pun aq ga bakl nemuin itu.
Kalo ada yg bilng aq cewek yg beruntung, itu salah besar. Bagaimana bisa dianggap beruntung, kalo keahlian aja aq ga punya? Lalu apa yg akan aku bawa nanti utk idupku slanjutnya ??? Apa yg akn kubawa utk dibanggakan kpd ortuku?? Apa yg bisa kuperbuat utk nusa, bangs, negara & agamaku ??? Aku? : MEMALUKAN !
Aq sering kalah dg perasaan sperti ini. Terlebih stelah melihat bayanganku di cermin. Coba lihat, aq ga punya apa" untuk dibanggakan. Atau, Tuhan menyuruhku utk mencari" serpihan" kelebihanku yg ada? Sepertinya, sampai tua pun aq ga bakl nemuin itu.
Kalo ada yg bilng aq cewek yg beruntung, itu salah besar. Bagaimana bisa dianggap beruntung, kalo keahlian aja aq ga punya? Lalu apa yg akan aku bawa nanti utk idupku slanjutnya ??? Apa yg akn kubawa utk dibanggakan kpd ortuku?? Apa yg bisa kuperbuat utk nusa, bangs, negara & agamaku ??? Aku? : MEMALUKAN !
Kamis, 25 Desember 2008
Baskoro (Unforgettable Name!)
Sering aku dan beberapa anak lainnya yang satu SD bercerita pada teman” sekelas tentang masa SD kami. Mulai dari aku dan Lia yang dimarahin sama guru IPA gara” ketawa gak berenti” abis dengerin Nezha ngoceh, sampe all about Baskoro. Wah wah, siapa lagi itu Baskoro? Ini dia ceritanya.
Baskoro adalah teman sekelasku ketika di kelas 6 SD. Hidupnya amat sengsara, karena dijauhi teman sekelas. Oke, awal cerita ini adalah ketika aku yang berasal dari kelas 5 B, kelas nggak unggulan, masuk ke kelas 6 B, kelas yang katanya unggulan. Di sana, aku bertemu dengan teman”ku di kelas 4 yang terpisah gara” masuk ke kelas yang berbeda denganku di kelas 5. Nah, teman”ku ini memberitahuku tentang Baskoro, cowok berkulit putih mayat, bermata sipit, bertubuh kurus dan bersuara ‘sroott’ menjijikkan setiap kali dia menghirup napas.
‘Tau gak seh, Il, dia itu pernah naro ingus di kertas en kertasnya dibiarin dalam keadaan ngebuka di atas meja! Agung yang geblek itu megang en nanya: Bas, ini apaan?, Baskoro langsung nyengir sambil bilang: Itu ingusku!’ kata salah Melia yang merupakan pimpinan Baskoro’s Hater. Aku yang nggak tau apa” cuman bergidik ngeri. Najis! pikirku jijik. Dan mulai detik itu aku membenci dan menjauhi Baskoro.
Aku berjalan dengan senyum lebar seperti biasanya dan menuju ke kelas 6 B. Tap. Seisi kelas menyambutku. ‘Hahaa… Selamat, Il!’ sambut Agung dengan mata bersinar menyebalkan. ‘Kenapa?’ tanyaku bingung. ‘Kemarin pas kamu nggak masuk, ada pembagian tempat duduk! Nah, kamu dapet tempat di samping Baskoro!’. Setelah denger kalimat itu, rasanya aku mau pingsan.
Guru kelasku yang bijak membuat aturan tempat duduk rolling. Jadi, aku hanya duduk sebangku dengan Baskoro selama satu hari, karena hari lainnya aku akan duduk dengan anak di seberangku. Sementara Baskoro bakal duduk dengan anak dua baris di depan kami: Nopi. Aku cukup bersyukur akan kebijakan guru kelasku. Dengan begitu, aku nggak akan lama duduk tersiksa dengan Baskoro (meski bagiku sehari sebangku dengannya cukup menyiksa!).
Jam pertama adalah pelajaran IPA. Aku sedang asyik mengerjakan tugas. Kelas sedang hening. Mungkin karena ini masih jam pertama kali ya. Di tengah keasyikanku itu, sebuah suara menggetarkan hati, sampai di telingaku. Shroott. Sebuah tarikan napas panjang yang diikuti dengan bunyi cairan kental yang terhirup. Hooek! Aku melirik Baskoro dengan wajah jutek plus jijik. Tampangnya puas banget! Aku makin merinding.
Satu hari yang panjang itu akhirnya selesai juga. Di hari itu juga Guru IPA kami telah membuat diriku bahagia. Dia marahin Baskoro! Hihihi. Aku tersenyum gembira, melihat tampang Baskoro pas dimarahi tadi (jahat banget ya…?).
Suatu hari, Baskoro diejekin sama Lia (sobatku yang judes ntu). Baskoro nggak terima. Dia ngelempar buku ke arah Lia sambil nangis. Berhubung Lia ada di sebelahku, dan lemparan Baskoro nggak terlalu keras, maka akulah yang kena lemparannya. Aku langsung ngamuk. Aku ejekin aja dia sekalian. ‘Heei, ada yang jualan cowok cengeng yaa…? Kok ada cowok yang nangis di sini?!’ teriakku lantang. Dan darah di ubun” Baskoro makin mendidih. Dia melempar bulpen ke arahku yang sedang berputar” sambil mengejek”nya. Bulpen itu tepat mengenaiku. Aku jadi ikut marah. ‘Heh, kamu itu cowok cengeng! Nggak bakalan ada cewek yang doyan sama kamu! Bahkan Risa juga nggak doyan sama cowok nangisan en bikin jijik kayak kamu!’ kataku berang. Baskoro yang naksir Risa, (Risa adalah teman paling sabar yang pernah kutemui di dunia. Dia adalah si pembela kebenaran. Selalu belain Baskoro dengan kalimat: Hei, jangan gitu ta!) menangis makin keras. Dia kalah!
Sehabis sholat di musholla, aku ke kelas. Kelas sudah sepi. Semua anak cowok udah pada pulang. Yang tertinggal hanya anak” cewek. Dan kemudian kutemukan tas, sepatu, kursi dan mejaku berantakan. Aku tau ini perbuatan siapa. Baskoro si cengeng. Aku marah. Si Nopi, asistenku yang setia, juga ikut marah. Dia ngebantu aku menyembunyikan kursi dan meja Baskoro. Esoknya, kulihat dia mencatat pelajaran sambil berdiri.
Ketika metode duduk rolling selesai, guru kelasku membuat metode baru. Kelasku dibagi jadi beberapa kelompok. Dan kursi” di kelas dibuat melingkar, membentuk enam kelompok. Tapi, tak ada kelompok yang mau menampung Baskoro. Jadi, Baskoro menyeret bangku dan kursinya di tengah kelas. Sendirian. Wah, mandiri sekali dia.
Musuh terbesar Baskoro adalah Melia, cewek pinter nggambar yang berjiwa cowok. Melia juga merupakan pembenci Baskoro. Apapun yang disentuh Baskoro, sebisa mungkin dihindarinya.
Suatu hari, Baskoro bertengkar sama Melia. Dibentur”kannya kepalanya ke meja. Tapi mungkin karena dia takut terluka, dia membenturkannya dengan pelan”. Hihi. Setelah puas membenturkan kepalanya dengan slow motion, dia menggesekkan mistar kayu papan tulis ke pergelangan tangannya dengan air mata yang nggak berhenti keluar. Melia yang melihatnya langsung menyodorkan cutter kepadanya sambil bilang: ‘Kalo mau bunuh diri pake ini aja, Bas! Biar cepet matinya!’. Mendengar kalimat itu, Baskoro makin keras menggesekkan mistar kayunya. Belum puas juga, dia menyobek buku catatan IPA-nya menjadi serpihan kecil”. Dan kemudian guru IPA-ku yang terkenal sentimentil pada Baskoro langsung memarahinya habis”an. Baskoro, dengan wajah menyesal, mencoba menyatukan kembali serpihan” kertas itu dengan… lagi” dengan air mata berlinangan!
Risa hanya bisa menatapnya iba sambil berbisik pelan, ‘astaghfirullah…’, sementara anak” sekelas menatap Baskoro dengan pandangan rasain-lu!
Kekejaman kami pada sosok Baskoro masih banyaaaakk sekali, yang nggak mungkin kubuat list-nya di sini. Dan akhirnya kebiadaban kami selesai di penghujung SD. Kami disadarkan oleh Pintu Hidayah-Nya. Akhirnya, berbondong”lah kami menemui Baskoro dan meminta maaf padanya dengan mata sembab penuh penyesalan (mungkin yang belum minta maaf ke dia cuman Melia!). Untunglah dia maafin kami, kalo nggak, nggak mungkin aku menceritakan kisah ini sambil ketawa” begini.
Yah, manusia tak luput dari dosa dan khilaf kan, Bas? Tapi gara” kekejaman kami dan penderitaanmu itu, ‘Baskoro’ jadi unforgettable name! Hihihihi.
Baskoro adalah teman sekelasku ketika di kelas 6 SD. Hidupnya amat sengsara, karena dijauhi teman sekelas. Oke, awal cerita ini adalah ketika aku yang berasal dari kelas 5 B, kelas nggak unggulan, masuk ke kelas 6 B, kelas yang katanya unggulan. Di sana, aku bertemu dengan teman”ku di kelas 4 yang terpisah gara” masuk ke kelas yang berbeda denganku di kelas 5. Nah, teman”ku ini memberitahuku tentang Baskoro, cowok berkulit putih mayat, bermata sipit, bertubuh kurus dan bersuara ‘sroott’ menjijikkan setiap kali dia menghirup napas.
‘Tau gak seh, Il, dia itu pernah naro ingus di kertas en kertasnya dibiarin dalam keadaan ngebuka di atas meja! Agung yang geblek itu megang en nanya: Bas, ini apaan?, Baskoro langsung nyengir sambil bilang: Itu ingusku!’ kata salah Melia yang merupakan pimpinan Baskoro’s Hater. Aku yang nggak tau apa” cuman bergidik ngeri. Najis! pikirku jijik. Dan mulai detik itu aku membenci dan menjauhi Baskoro.
Aku berjalan dengan senyum lebar seperti biasanya dan menuju ke kelas 6 B. Tap. Seisi kelas menyambutku. ‘Hahaa… Selamat, Il!’ sambut Agung dengan mata bersinar menyebalkan. ‘Kenapa?’ tanyaku bingung. ‘Kemarin pas kamu nggak masuk, ada pembagian tempat duduk! Nah, kamu dapet tempat di samping Baskoro!’. Setelah denger kalimat itu, rasanya aku mau pingsan.
Guru kelasku yang bijak membuat aturan tempat duduk rolling. Jadi, aku hanya duduk sebangku dengan Baskoro selama satu hari, karena hari lainnya aku akan duduk dengan anak di seberangku. Sementara Baskoro bakal duduk dengan anak dua baris di depan kami: Nopi. Aku cukup bersyukur akan kebijakan guru kelasku. Dengan begitu, aku nggak akan lama duduk tersiksa dengan Baskoro (meski bagiku sehari sebangku dengannya cukup menyiksa!).
Jam pertama adalah pelajaran IPA. Aku sedang asyik mengerjakan tugas. Kelas sedang hening. Mungkin karena ini masih jam pertama kali ya. Di tengah keasyikanku itu, sebuah suara menggetarkan hati, sampai di telingaku. Shroott. Sebuah tarikan napas panjang yang diikuti dengan bunyi cairan kental yang terhirup. Hooek! Aku melirik Baskoro dengan wajah jutek plus jijik. Tampangnya puas banget! Aku makin merinding.
Satu hari yang panjang itu akhirnya selesai juga. Di hari itu juga Guru IPA kami telah membuat diriku bahagia. Dia marahin Baskoro! Hihihi. Aku tersenyum gembira, melihat tampang Baskoro pas dimarahi tadi (jahat banget ya…?).
Suatu hari, Baskoro diejekin sama Lia (sobatku yang judes ntu). Baskoro nggak terima. Dia ngelempar buku ke arah Lia sambil nangis. Berhubung Lia ada di sebelahku, dan lemparan Baskoro nggak terlalu keras, maka akulah yang kena lemparannya. Aku langsung ngamuk. Aku ejekin aja dia sekalian. ‘Heei, ada yang jualan cowok cengeng yaa…? Kok ada cowok yang nangis di sini?!’ teriakku lantang. Dan darah di ubun” Baskoro makin mendidih. Dia melempar bulpen ke arahku yang sedang berputar” sambil mengejek”nya. Bulpen itu tepat mengenaiku. Aku jadi ikut marah. ‘Heh, kamu itu cowok cengeng! Nggak bakalan ada cewek yang doyan sama kamu! Bahkan Risa juga nggak doyan sama cowok nangisan en bikin jijik kayak kamu!’ kataku berang. Baskoro yang naksir Risa, (Risa adalah teman paling sabar yang pernah kutemui di dunia. Dia adalah si pembela kebenaran. Selalu belain Baskoro dengan kalimat: Hei, jangan gitu ta!) menangis makin keras. Dia kalah!
Sehabis sholat di musholla, aku ke kelas. Kelas sudah sepi. Semua anak cowok udah pada pulang. Yang tertinggal hanya anak” cewek. Dan kemudian kutemukan tas, sepatu, kursi dan mejaku berantakan. Aku tau ini perbuatan siapa. Baskoro si cengeng. Aku marah. Si Nopi, asistenku yang setia, juga ikut marah. Dia ngebantu aku menyembunyikan kursi dan meja Baskoro. Esoknya, kulihat dia mencatat pelajaran sambil berdiri.
Ketika metode duduk rolling selesai, guru kelasku membuat metode baru. Kelasku dibagi jadi beberapa kelompok. Dan kursi” di kelas dibuat melingkar, membentuk enam kelompok. Tapi, tak ada kelompok yang mau menampung Baskoro. Jadi, Baskoro menyeret bangku dan kursinya di tengah kelas. Sendirian. Wah, mandiri sekali dia.
Musuh terbesar Baskoro adalah Melia, cewek pinter nggambar yang berjiwa cowok. Melia juga merupakan pembenci Baskoro. Apapun yang disentuh Baskoro, sebisa mungkin dihindarinya.
Suatu hari, Baskoro bertengkar sama Melia. Dibentur”kannya kepalanya ke meja. Tapi mungkin karena dia takut terluka, dia membenturkannya dengan pelan”. Hihi. Setelah puas membenturkan kepalanya dengan slow motion, dia menggesekkan mistar kayu papan tulis ke pergelangan tangannya dengan air mata yang nggak berhenti keluar. Melia yang melihatnya langsung menyodorkan cutter kepadanya sambil bilang: ‘Kalo mau bunuh diri pake ini aja, Bas! Biar cepet matinya!’. Mendengar kalimat itu, Baskoro makin keras menggesekkan mistar kayunya. Belum puas juga, dia menyobek buku catatan IPA-nya menjadi serpihan kecil”. Dan kemudian guru IPA-ku yang terkenal sentimentil pada Baskoro langsung memarahinya habis”an. Baskoro, dengan wajah menyesal, mencoba menyatukan kembali serpihan” kertas itu dengan… lagi” dengan air mata berlinangan!
Risa hanya bisa menatapnya iba sambil berbisik pelan, ‘astaghfirullah…’, sementara anak” sekelas menatap Baskoro dengan pandangan rasain-lu!
Kekejaman kami pada sosok Baskoro masih banyaaaakk sekali, yang nggak mungkin kubuat list-nya di sini. Dan akhirnya kebiadaban kami selesai di penghujung SD. Kami disadarkan oleh Pintu Hidayah-Nya. Akhirnya, berbondong”lah kami menemui Baskoro dan meminta maaf padanya dengan mata sembab penuh penyesalan (mungkin yang belum minta maaf ke dia cuman Melia!). Untunglah dia maafin kami, kalo nggak, nggak mungkin aku menceritakan kisah ini sambil ketawa” begini.
Yah, manusia tak luput dari dosa dan khilaf kan, Bas? Tapi gara” kekejaman kami dan penderitaanmu itu, ‘Baskoro’ jadi unforgettable name! Hihihihi.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)